efek

Jumat, 26 April 2013

fanfictiaon ulquihime # bleach



Greet love
**Chapter 1**
“ Ulquiorra….. ! ” suara sang ibu memanggil dari balik pintu yang ia ketuk-ketuk  berulang kali. Namun nihil yang ia dapatkan, tak ada satu pun jawaban yang ia terima dari dalam kamar anaknya yang ia panggil ulquiorra.
Dalam kamar, Nampak seorang pemuda yang berdiri dari tempatnya duduk, ia menghela nafas beratnya ia tahu bahwa esok hari sampai ia berada nanti. Ia tidak akan menempati kamarnya yang nyaman itu lagi, Dan lagi-lagi suara yang familiar itu terdengar olehnya.
“ Ulquiorra, cepat nak! Kita sudah tidak punya waktu banyak. Ayah mu sudah menunggu di mobil. ” Agak terkejut sang ibu, yang tiba-tiba saja pintu kamar anaknya terbuka saat ia ingin mengetuk pintu itu sekali lagi.
“ Ayo… ” ajak sang anak yang bernama  ulquiorra. Sang ibu pun mengikuti anaknya dari belakang. Sampai di mobil terlihat seorang pelayan yang tengah memasukkan barang bawaan tuannya ke bagasi mobil. Setelah selesai mobil pun melaju menuju bandara.
Sesampainya mereka di bandara…..
Perhatian ulquiorra tertuju pada sang ibu yang terus memasang wajah khawatir dan banyak omong itu.
“ Jaga dirimu baik-baik nak, jangan buat masalah di rumah nenek nanti, titipkan juga salam dari ibu dan ayah mu pada nenek. ”  Pinta sang ibu.
Ulquiorra mengalihkan perhatiannya pada sang ayah yang sepertinya ingin mengucapkan sesuatu.
“ Jangan mengecewakan ….dan jaga nenek mu ” dengan  berakhirnya permintaan dari sang ayah. Terdengarlah suara panggilan kepada para penumpang penerbangan menuju jepang yang sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas.
“ Baiklah, cukup! Ayah dan ibu tenang saja aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menuruti perintah nenek. ” Ulquiorra pun melangkah meninggalkan ke dua orang tuanya yang terlihat masih sedikit  ada keraguan pada ulquiorra.
“ Kau yakin nenek yang memintanya? ” Tanya aizen ( sang ayah ulquiorra )
“ Iya, Ibu  memang aneh. apa kurang banyak pelayan yang ku kirim untuk mengurusnya? ” gumam halibel ( sang ibu ulquiorra )
“ Tenang saja, anak kita pasti bisa menuruti apa mau ibu mu sayang. Dan sepertinya aku pun harus segera ke kantor. ” Ucap aizen berlalu pergi meninggalkan istrinya yang masih setia mematung meratapi anaknya.
Tak jauh dari pintu bandara terlihat sang gadis yang terlalu bersemangat tengah berlari menerjang orang-orang yang menghalangi jalannya.
            “ M-maaf, permisi…aku sedang buru-buru. ” Ucap sang gadis yang baru saja menabrak seorang ibu. Kepangan rambutnya seolah menari-nari seiringnya ia berlari, boneka kelinci yang berukuran sedang pun di dekapnya erat. Tangan kirinya masih setia menarik koper orange berukuran cukup besar. Hingga akhirnya………..
            “ Hosh…hosh...hosh…syukurlah, masih sempat .” ujar sang gadis yang sudah duduk di bangku penumpang.
Tidak jauh dari tempat gadis itu duduk ya… hanya selisih dua kursi dari sebelahnya. Maka akan terlihat sang pemuda yang selama liburannya ia cari-cari hanya untuk berterimakasih dan memberikan sarung tangannya yang ia beri sewaktu menolongnya.
“ Derrt,derrt,derrt…  ” getar suara handphone sang gadis. dengan gesit ia pun menekan warna hijau.
“ Kakak!? Aku sudah ada dalam pesawat….. iya hari ini aku pulang. ” Sahutnya kepada seseorang di sebrang sana. Namun percakapannya tidak selama yang ia ingin kan karena seorang petugas dalam pesawat memintanya untuk mematikan handphonenya selama penerbangan.
Beralih ke ulquiorra… ia malah sibuk dengan posisi yang nyaman baginya untuk tidur.
Mungkinkah di balik kehidupan mereka ada suatau ikatan yang di sebut takdir ?  Entahlah hanya tuhan yang mampu menentukan dan menjadikannya kenyataan.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya…. J

**chapter 2 **
“ Nyonya besar, tuan muda ulquiorra telah sampai. Dan seperti permintaan anda, saya sudah menyuruh seseorang untuk menjemputnya di bandara.”  ucap sang pelayan pada orang yang di sebutnya nyonya besar. Namun sang nyonya besar hanya tersenyum dan melanjutkan acara minum tehnya.
 “ Hanya itu yang dapat saya sampaikan nyonya. Saya pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan. ”  Dan sang pelayan pun meninggalkan majikannya sendirian di ruangan yang megah.
“ Sudah datang rupanya ” ucap sang nyonya besar yang baru saja selesai meminum tehnya.
Ban pesawat yang bergesekan dengan lintasan penerbangan menghakhiri pejalanan panjang sang penumpang tidak terkecuali ulquiorra dan orihime. Langkah kakinya yang menuju sebuah pintu keluar terasa ringan manakalah hatinya yang sangat senang karena sudah kembali ke Negara tercintanya. Dari kejauhan seorang lelaki dengan penampilan terbaiknya sudah berdiri di ambang pintu keluar para penumpang. Matanya terus mencari sosok orang yang teramat penting baginya. Dari banyaknya para penumpang yang keluar akhirnya yang di tunggu pun keluar. Rambut jingga yang di kepang, rok biru yang mengembang, baju putih yang berbalutkan jaket kulit berwarna biru tua, boneka kelinci yang selama perjalanan ia dekap, tak luput dengan koper orange yang ia bawa. Wajah polos dengan senyum yang selalu menghiasi pun terlihat makin merekah mana kala orang yang tadi ia panggil kakak saat di telephone sudah menunggunya cukup lama, di temani seorang wanita yang ia kenal dengan sahabat kakaknya itu.       Namun sedikit lagi ia akan menghampiri kakaknya tiba-tiba matanya menemukan sesuatu yang ia cari-cari selama liburan. Seorang pemuda yang waktu itu menyelamatkannya. Pemuda itu berjalan agak jauh darinya, rambut hitam, jaket putih, celana jens hitam, dan koper hitam yang ia seret. Kepalanya ia tengokkan ke kiri dan kanan seperti sedang mencari seseorang. Sampai akhirnya yang ia cari menghampirinya dan membawakan kopernya menuju bagasi mobil.
“ Ah! I-itu bukan kah….h-hey! Tunggu… ” panggil orihime mengejar sang pemuda yang sayang sekali sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Sedikit lagi orihime sampai, mobil itu sudah menancapkan gas dan melaju meninggalkan bandara.
“ Yaaah…. Dia pergi! ” gumam orihime lesu. Tanpa di sadari orihime sang kakak dan sahabat wanitanya yang  tadi agak terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba berlalu melewatinya.
“ Siapa yang pergi ? ” Tanya sang kakak.  Yang di Tanya terkejut, dan  berbalik menghadap sang kakak. Karena senangnya orihime langsung memeluk erat  sang kakak, dengan tampang polosnya, orihime menjawab “ Bukan siapa-siapa koq, kak ichigo. ”
“ Kau ini kenapa ? melewati kami begitu saja, seperti tidak kenal sama sekali.” Tanya sahabat wanita kakaknya dengan tampang cemberut.
“ M-maaf, bukan maksud ku begitu kak rukia. Hanya saja tadi aku melihat seseorang yang telah  menyelamatkan ku saat di paris.” jelasnya
“ Siapa? ” Tanya orang yang di panggil rukia.
“ Bukan siapa-siapa, aku pun belum mengenalnya ” jawab orihime dengan tampang berfikir.
“ Sudah-sudah, sebaiknya kita bawa barang-barang bawaan mu ke dalam mobil. ” ucap sang kakak yang bernama ichigo. Dengan lihai ichigo mengambil barang-barang yang tadi di bawa orihime menuju mobilnya yang di parkir tak jauh dari tempatnya berada.
Di dalam mobil…..
            “ Berisik ” , itu lah satu kata yang dapat di simpulkan, bagaimana tidak ? dari 3 penumpang yang ada di mobil ichigo hanya orihime satu-satunya orang yang banyak bicara. Sang kakak hanya dapat tersenyum melihat tingkah adik kelasnya itu. Dan orang yang menanggapi setiap omongan tak jelas yang terlontar dari orihime hanya rukia. yaah… walau dirinya tak begitu memahami maksud dari setiap cerita orihime yang tak karuan.
            “ Kalau saja kakak bisa ikut berlibur bersama ku, pasti akan menyenangkan. Kita akan melihat betapa indahnya kota paris di malam hari. Ooh… sungguh romantis… ” orihime menghayal.
Namun tanpa ia sadari tatapan rukia berubah sendu, ichigo yang melihatnya merasa ikut bersalah.
Setibanya di rumah yang besar….           
“ Selamat datang tuan muda ulquiorra. ” sapa seluruh pelayan di pintu masuk. Tapi sayang… tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut ulquiorra walau hanya untuk sekedar balas menyapa. Dengan santainya ia berjalan melewati setiap pelayan yang tunduk memberi hormat.
“ Nyo-nyonya!… hati-hati, anda bisa terjatuh. ” pinta sang kepala pelayan yang mencegah majikannya bermain sepatu roda sambil berlari.
“ Yuhuuuu!…. Ini sangat menyenangkan ” teriak sang nyonya besar. Di sepanjang lorong ia terus mengayuh sepatu rodanya agar cepat sampai di pintu depan  untuk bertemu sang cucu yang jauh-jauh dari paris datang ke jepang.
“ Dimana dia ? ” pikir ulquiorra. Tanpa menunggu lama akhirnya muncul juga sang nenek yang tadi sempat di pertanyakan dalam pikirannya. Tapi ada yang salah dengan ke datangan sang nenek yang melaju dengan sepatu rodanya yang begitu cepat hampir tak bisa di hentikan.
“ Ulquiorra….! ” Triak sang nenek sambil merentangkan tangannya.
“ Oh, tidak! Aku tidak bisa berhenti! ” Pikir sang nenek mencoba menghentikan sepatu rodanya. Namun buntu yang ada dalam pikirannya.
Ulquiorra yang sebentar lagi mendapat pelukan super maut dari neneknya tidak berkutik dan mengambil resiko yang nanti akan ia dapatkan. Dan…
“ Astaga !... ” histeris seluruh pelayan. Melihat majikannya dapat di hentikan oleh cucunya sendiri. Dengan posisi seperti adegan terakhir sepasang penari. Kedua tangan sang nenek merangkul leher ulquiorra dan kedua tangan ulquiorra menahan berat badan sang nenek yang condong hampir terjatuh.  Kesunyian hampir menyelimuti area di sekeliling mereka namun tak berlangsung lama, suara gemuruh tepuk tangan dari para pelayan yang menonton adegan tersebut terdengar. Dan sang nenek yang begitu menikmati posisinya tak kunjung melepaskan rangkulannya. Yang ada ia malah tambah mengeratkan rangkulannya pada leher ulquiorra.
  Tak berubah, kau masih tetap sigap dalam keadaan apa pun. ” puji sang nenek.
  Berhentilah bicara, dan lepaskan tangan nenek sekarang! ” pinta ulquiorra. Dan bingo… ! sang nenek dengan suka rela melepaskan rangkulannya. para pelayan mulai mengelilingi sang majikan hanya untuk sekedar memastikan bahwa majikannya benar-benar tidak masalah. Ulquiorra menghela nafas melihat tingkah para pelayan yang dikirim ibunya itu.
            “ Nyonya  baik-baik saja ? ”Tanya sang pelayan khawatir.
            “ Aduuuh… pinggang ku…. ” gumam sang nenek sambil memegangi pinggangnya. Sambil berjalan meninggalkan ulquiorra.
            “ Nenek, dapat salam dari ibu dan ayah ” ucapan ulquiorra sukses menghentikan langkah sang nenek. Tapi setelah itu hanya raungan kesakitan nenek yang ia terima.
Kepala pelayan mendekati ulquiorra dan mengantarnya menuju kamar yang telah di persiapkan dari jauh-jauh hari sebelum ia datang.  Setelah sampai di kamarnya satu kesan yang ia simpulkan dari kamarnya sekarang “ Tidak terlalu buruk ”
Di depan  apartemen orihime…
Mobil yang tadi di gunakan ichigo untuk menjemput orihime sudah terparkir aman, sedangkan para penumpangnya ada di dalam apartemen orihime.
“ Waaahh, kamar ku! Aku rindu kamar ku…” teriak orihime dan berlari menuju kamarnya.
“ Hime, aku taruh barang-barang mu dekat sofa.” Ujar ichigo.
Mengira orihime akan langsung beristirahat dalam kamarnya yang ternyata malah keluar dan dengan semangatnya membongkar isi barang-barang bawaannya.
“ Ikan, ikan, ikan…” gumam orihime mengobrak-abrik isi barangnya. Dan barang yang di sebutkannya pun di temukan sebuah bungkusan yang ternyata berisi sepasang ikan mas koki yang megap-megap. Dengan agak terburu-buru orihime melesat menuju dapur dan tanpa pandang bulu. Ia dapatkan tempat yang menurutnya cukup untuk menaruh ikannya.
“ Kenapa kau taruh ikannya di gelas wein? ” Tanya rukia heran.
“ Karena aku tidak punya aquarium. ” jawab orihime polos.
“ Di rumah ku ada aquarium, taruh saja di sana. Bagaimana ? ” pinta rukia namun gelengan kepala orihime yang di dapat atas jawabnya.
“ Oh, iya! Kak rukia, ada oleh-oleh yang ku beli di paris untuk kakak. ” spontan orihime beranjak dari dapurnya menuju barang bawaannya yang sudah di obrak-abriknya itu.
“ Ini untuk kakak. ” Dengan senyum orihime menyerahkan sebuah bingkisan yang cukup besar kepada rukia.
“ Ayo di buka! Kakak pasti suka. ” pinta orihime. Dan rukia pun membuka bingkisan yang ia terima dan betapa terkejutnya ia mendapati sebuah topi pantai? bukankah orihime tahu? Walau pun rukia seorang perempuan, tapi ia tidak terlalu suka dengan aksesoris wanita pada umumnya, walau pun itu hanya sebuah topi tapi jika berhiaskan bunga, dan pita, di tambah berwarna pink. Oh… itu sungguh kejutan. rukia tersenyum walau pun itu senyum yang ia paksakan agar tak menyakiti perasaan sang adik kelasnya.
“ Cantik kan? dan aku juga punya untuk kak ichigo. ” gumam orihime dan memberikan bingkisan yang ke dua pada ichigo.
“ Untuk ku juga ada? waaah asyik… ” ichigo girang. Dan langsung membuka bingkisannya. Namun betapa terkejutnya Ichigo yang mengira akan di belikan baju, sepatu, atau souvenir khas paris yang akan ia dapatkan. Malah sebungkus makanan ringan?
“ Ya ampun orihime mengapa kau pelit sekali? masa hanya makanan ringan ? ” gumam ichigo dalam hati.
“ Itu sangat enak, aku yakin kakak pasti suka. ” ucap orihime.
“ Hehehe… aku harap begitu. ” ujar ichigo.
Rukia melirik jam tangannya dan mengingatkan ichigo untuk segera beranjak dari apartemen orihime.
“ Orihime, kami tidak bisa berlama-lama dan juga kau harus istirahat. ” pamit ichigo dan rukia di depan pintu
“ Baiklah… terimakasih sudah repot-repot menjemputku di bandara kakak. Hati-hati di jalan ” ucap orihime dan masuk ke dalam apartemennya.
Di parkiran mobil…
            “ Apakah tidak apa-apa? tidak memberitahukan padanya? ” Tanya rukia sambil memasang sabuk pengaman. Sedang kan yang di Tanya malah asyik membuka bungkusan makanan ringannya yang ia dapat dari orihime. Dari bentuk dan warna makanan sedikit mencurigakan, namun karena pemberian dari orihime maka ia pun memakannya. rukia terkejut melihat reaksi ichigo saat memakannya raut wajahnya pucat pasih sungguh mengenaskan.
            “ Kau kenapa ? ” Tanya rukia bukan jawaban yang ia dapatkan malah tatapan yang mengatakan “ kau juga harus memakannya ”. rukia yang mengerti pun memakan makanan ringan itu. Baru saja ichigo bereaksi aneh sesaat setelah ia makan, rukia pun menirukan reaksi yang sama.
            “ Tak berubah, dia masih tetap aneh dalam soal rasa. ” gumam ichigo yang di barengi angukan dari rukia.
Di dalam apartemen orihime…
            Sebenarnya orihime tidak lah terlalu lelah, yang ada sekarang ini dia tengah sibuk dalam kegiatannya mengeluarkan isi dalam kopernya. “ pluk “ sepasang sarung tangan terjatuh. Dan lagi-lagi ingatannya tentang pemuda yang tadi ia lihat di bandara dan orang yang sama saat menolongnya di paris. Diambilnya sarung tangan itu dan ia perhatikan ternyata terdapat sulaman rajutan huruf yang berinisial UQ.
            “ U-q ? siapa ya? ” pikirnya menganalisa sebuah inisial.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya…. J

**chapter 3**
Suara bising kendaraan yang menderu di sepanjang jalan kota Tokyo, langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang melintasi di setiap jalan terotoar pun menambah suasana pagi kota. Walau matahari muncul dengan segudang kehangatan dan senyum yang hangat belum kunjung menghilangkan sisa embun pagi nan dingin pada kota itu. Warna hijau sebagai tanda jalan pun tak kunjung muncul pada lampu lalulintas yang berdiri kokoh di samping zebracross. Jam tangan yang terpasang di tangan ramping seorang wanita sedikit menarik perhatian seorang gadis muda sebut saja ia ( Orihime ) di sebelahnya…
“ Ano…maaf, ku lihat jarum panjang pada jam tangan anda lebih 10 menit. Karena sekarang saja masih pukul  05:15 menit.” Ucap orihime.
Yang di tegur pun melirik jam tangannya dan tersenyum pada orihime…
“ Aku memang sengaja melebihkannya agar tak telat masuk kerja, tapi terimakasih sudah menegurku.” Jawab sang wanita.
“ Oh begitu…, maaf ya?, hahahaha…” mohon orihime sambil tertawa.
“ Iya, tidak masalah. hahaha…” ucap sang wanita ikut tertawa
Dari sebrang zebracross berdiri seorang pemuda sebut saja ia ( Ulquiorra ) tengah menunggu warna hijau muncul, sama halnya dengan orihime. Suara Music yang mengalun dari kedua headset terpasang baik di telinganya. Nafasnya naik turun sehabis berlari, bukan karena di kejar anjing, di kejar polisi, atau pun mengejar pencuri. Hanya olahraga lari biasa, saat di paris pun ia sering melakuannya. Bola matanya memandang lurus pada objek di depannya, dimana ada dua orang wanita dan salah satunya lebih muda. Mereka tengah berbincang dan kemudian tertawa ulquiorra hanya perpendapat bahwa wanita itu seperti Burung. Jika sudah di pertemukan pasti akan ramai dan merasa bahwa dunia hanya milik mereka saja. Tanpa di sadari orihime warna merah pun telah berganti hijau dengan  kata lain mau tak mau ia harus menghentikan acara bincang-bincangnya. Ia pun berjalan untuk sampai ke sebrang begitu  juga ulquiorra. Tak sedikit orang yang berjalan di zebracross itu karena berlawanan arah, tapi  tuhan masih belum mau mempertemukan ke dua insan itu yang sebenarnya bisa saja bertemu. Sayangnya orihime tak begitu mengenali orang yang baru saja di lewatinya. Jelas saja… bagaimana bisa mengenali ulquiorra yang memakai jaket dan topi. Sedangkan ulquiorra sendiri tidak akan ingat dengan orihime yang di selamatkannya itu.
Di universitas…
Masih belum ramai memang, namun jika kau masuk ke dalam kelas kau akan menemui seorang pemuda di pinggir jendela yang tengah sibuk dengan buku seketsanya. Hembusan angin membelai lembut rambutnya, tatapan matanya tefokus hanya pada buku sketsa yang ia coret-coret membentuk sebuah gambar. Tanpa ia sadari dari awal sebenarnya seseorang tengah mengamatinya dari belakang.
                        “ Gambar mu bagus sekali ishida? ” puji orang di belakangnya. Yang di puji terkejut dan dengan cepat menutup buku sketsanya menghentikan kegiatannya.
                        “ O-orihime? Sejak kapan?... ” Tanya orang yang di panggil ishida itu menundukan raut wajahnya yang terkejut,takut, dan malu.
                        “ Sejak kau serius menggambar. Dan tidak menjawab salam ku saat masuk. ” jawab orihime agak kesal.
                        “ Ah!? Maaf kalau begitu ” dengan agak canggung ia menggaruk pipinya yang tidak gatal.
                        “ Tapi, tadi itu kau gambar siapa? ” Tanya orihime.
                        “ A-aano… I-itu… sebenarnya…k-ka…ka… ” ishida jadi tergagap karena merasa ketahuan bahwa dirinya tengah menggambar wajah gadis di depannya.
                        “ Heum…ka? ” orihime mencondongkan badannya ke ishida seperti menyelidik dan sepontan wajah ishida berubah merona karena jarak yang terlalu dekat.
                        “ K-Kakak mu! ” triak ishida sepontan, menghindar dan menggenggam buku sketsanya erat.
                          Heeh?! Kakak ku? Bagaimana bisa? Jelas-jelas tadi yang kau gambar itu seorang wanita. Mana mungkin kak ichigo? ” Tanya orihime heran.
                        “ B-bukan! Maksud ku itu…k... ” belum sempat ishida menjelaskan, orihime lebih dulu memotong pembicaraan.
                        “Ah! Aku tahu maksudmu itu kak rukia kan? Hahaha…” ucap orihime asal dan berjalan menuju bangkunya. Sedangkan ishida memandangnya murung dan geleng-geleng merutuki jalan pikiran orihime yang kelewat tak peka.
Di rumah yang besar…
                        “ Nenek, kau ini apa tidak mengenal umur?  ” Tanya ulquiorra yang di jawab oleh sebuah cubitan super maut dari neneknya yang telah selesai beerdandan.
                        “ walau nenek sudah berumur 60 tahun tapi jiwa nenek masih muda. mengerti? ” ucap nenek menegaskan dan beranjak meninggalkan kamarnya.
                        “ Deert…Deert…” handpone milik ulquiorra bergetar dan terdapat satu pesan e-mail baru.
                        “ to : ulquiorra
                        Ku dengar kau datang. Apa benar?
                        Jika benar, balas.
                        From : rukia ” begitulah isi e-mail tersebut dan di balasnya.
                        “ Ulquiorra ! ” panggil sang nenek dan melemparkan sebuah kunci mobil pada ulquiorra. Yang di panggil dengan sigap menanggap kunci tersebut dan membukakan pintu mobil untuk neneknya masuk. setelah itu ia beralih menggantikan supir neneknya dan mobil pun melaju…
Di universitas…
                        Kelas sedang dimulai dan para penghuninya sedang sibuk dengan materi untuk tugas yang akan di berikan. Namun karena sudah lewat 2 jam materi. maka kini giliran tugas-tugas yang akan mereka jalan-ni tak terkecuali orihime. Tangannya mengoyang-goyangkan pensil yang ia pegang, matanya terpejam dan raut wajahnya berfikir seolah akan dapat mendapatkan ide yang bagus. Cukup lama ia dalam posisi tersebut dan saking kuatnya berfikir akhirnya ia masih belum bisa menemukan ide yang ia cari. Ishida yang duduk tak jauh darinya. Ya…hanya beda satu meja di belakang. Memandangnya terus-menerus…
                        “ Aaah…! Tidak,tidak,tidak,tidak bisa… kalau begini terus aku tidak akan bisa dapat ide…” keluh orihime menundukkan kepalanya di atas meja. Entah angin darimana terlintas dari dalam pikirannya untuk mengerjakan tugas di tempat kakaknya. karena tidak ada larangan untuk mengerjakan tugas di luar kelas. Dengan agak terburu-buru orihime memasukan seluruh alat-alat tulisnya ke dalam tas. Setelah selesai ia langkahkan kakinya ke luar kelas.
                        “ Orihime, kau mau kemana? ” tanya ishida langsung bangkit dari duduknya.
                        “ Keluar, aku tidak mendapatkan ide sama sekali. ” jawab orihime yang terhenti di ambang pintu dan setelah itu melesat pergi. Ishida yang sebenarnya ingin ikut keluar terhenti karena seorang temannya meminta bantuannya.
Di dalam mobil…
Mata nenek masih melirik kanan dan kiri mencari tempat yang bagus. Sedangkan ulquiorra yang sedang menyetir di buatnya kwalahan. Karena sudah dua kali ia dan neneknya mengelilingi tempat parkir hanya untuk sebuah tempat yang diinginkan sang nenek.
                        “ Baiklah, kita parkir di pojok sana. ” pinta nenek. Ulquiorra pun memarkirkan mobilnya di sana. Kemudian pintu pun di bukanya untuk sang nenek.
Di depan mata berdiri kokoh bangunan yang lumayan besar. Kaki nenek pun melangkah menuju tempat itu namun langkah sang nenek berhenti dan menghadap ulquiorra yang mersandar di pinggir mobil.
                        “ Jika kau bosan menunggu, jalan-jalanlah berkeliling kota. Nenek akan mengabarimu jika sudah selesai yoga. ” ucap sang nenek sambil memamerkan handpone barunya di hadapan ulquiorra dan kembali melangkah meninggalkan cucunya.
Di kota…
Langkah kaki yang saling beradu dengan bumi yang di pijak meramaikan suasana kota yang memang sudah padat dengan berjuta-juta manusia yang ada. Tak terkecuali ulquiorra yang dengan santai melangkahkan kakinya melewati setiap pertokoan. sungguh di dalam hatinya ia tidak ingin berada dalam suasana seperti ini. Yang ramai dan berpolusi, namun apa daya? Perutnya kini sedang tidak bisa diam bernyanyi dalam artikata lapar. Bola matanya akhirnya menemukan apa yang ia cari, sebuah restoran italia dan tanpa basa-basi ia pun melangkah masuk.
Di halte…
 rok putih yang tertiup angin itu mengembang, rambut yang ia kuncir pun di belai sayang oleh angin yang bertiup. Matanya menelusuri jadwal film yang minggu ini sedang di putar di bioskop namun raut wajahnya berubah murung karena film yang ia cari tak kunjung muncul. Ia pun menutup jaringan internet handponenya dan melanjutkan kegiatannya menunggu bus yang akan datang.
Kembali ke ulquiorra yang telah selesai makan dan keluar dari restoran tersebut untuk melanjutkan acara jalan-jalannya. Awalnya ia berniat kembali dan menunggu neneknya selesai latihan yoga namun ia pikir-pikir lagi tidak ada ruginya ia berkeliling kota seperti ini. Tokyo tidak jauh berbeda dengan paris mungkin? Tapi ia sedikit terganggu dengan tatapan para gadis yang di lewatinya mereka menatap ulquiorra kagum dan berbisik-bisik. Dan Tak jauh dari tempat ulquiorra berada orihime melangkah menuju tempat yang ingin ia tuju di mana lagi kalau bukan tempat kakaknya kerja? Di penyebrangan langkahnya terhenti karena warna merah menyala. Begitu pula ulquiorra dari sebrang penyebrangan. Walau banyak mobil yang melintas, mata orihime sangat tajam buktinya kini ia seperti sedang tersamabar petir melihat ulquiorra berdiri di sebrang sana dengan angkuhnya. Senyum orihime merekah mana kala warna hijau yang ia tunggu-tunggu telah datang. Seperti mau perang dengan cepat langkah orang-orang menerobos ke depan. Orihime mempercepat langkahnya menghampiri ulquiorra …
                        “ Uq! ” panggil orihime melambaikan tangan pada ulquiorra yang berlalu melewatinya. Bagaimana mungkin ulquiorra dapat merespon panggilan orihime ? karena ia sendiri tidak tahu siapa yang di panggil orihime apa lagi kenal dengannya? Dan itu sukses membuat bola mata orihime bulat sempurna.
                        “Uq….hey…uq…! ” panggil orihime lagi. Dan hasilnya nihil tak ada jawaban, yang ada ulquiorra semakin menjauh pergi. Tak ingin melepaskan ulquiorra untuk kedua kalinya orihime pun berlari mengejarnya sambil memanggil nama uq. Dengan tak sabaran orihime menarik paksa bahu ulquiorra dan… bingo! Ulquiorra terkejut dengan apa yang terjadi. bagaimana bisa saat seperti ini seorang gadis dengan berani menarik bahunya tanpa alasan yang jelas? Sungguh nekat.
                        “ Uq!,  Kau uq kan? ” Tanya orihime menatap serius ulquiorra.
                        “ kau salah orang, nona.  ” jawab ulquiorra tenang.
                        “ Hehehe… Jangan bercanda, kau uq kan? ” Tanya orihime sekali lagi.
                        “ Apa kau tuli? Aku bilang bukan ya bukan. ” di tepisnya dengan kasar tangan orihime.
                        “ Deerrt…derrt… ” handpone dalam saku celana ulquiorra bergetar. Di lihatnya nama nenek memanggil Dan di tekannya tombol warna hijau.
                        “ ya aku segera datang. ” begitulah akhir dari percakapan telpon dengan nenknya. Di lihatnya Orihime yang masih menunggu ulquiorra.
                        “ Apa ? ” Tanya ulquiorra.
                        “ Kau uq kan? ” orihime mengulang pertanyaan yang sama. Dengan berat hati ulquiorra menaikan jari telunjuknya.
                        “ Pertama, aku bukan uq. Kedua, aku bukan uq. Dan Ketiga, aku tidak mengenalmu. Jadi jangan menggangu ku ” Ulquiorra menjelaskan dan beranjak pergi meningglkan orihime yang mematung dengan tampang diam seribu bahasa.
Kini tuhan mulai mempertemukan ke dua insan itu, namun ia belum dapat menyambung tali ikatan di antara mereka.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya…. J






*chapter 4*
Uap dingin menyeruak dari dalam segelas ice cream chocolateberry peanut Sunday belum juga meredakan luapan panas yang di dera orihime. Dua orang pelayan restoran salah satunya ichigo menatapnya tak wajar. Bagaimana tidak? Sudah 5 gelas ice cream habis di lahap orihime.
            “ Ichigo, tenangkan dia! Aku tidak ingin seluruh menu ice cream di habiskan olehnya semua…” pinta pelayan ( lebih tepatnya teman ichigo) di sampingnya, lalu Ichigo mendekati meja yang di tempati orihime.
            “ Aku sungguh tidak percaya dapat bertemu dengan penyelamatku dengan sifat yang berbeda. Apa-apaan dia itu? Mengelak, tidak mengenalku, dan pergi begitu saja.” Gumam orihime dalam hati. Ichigo yang melihat tingkah adiknya  itu tahu bahwa dirinya dalam mood yang tidak bagus.
            “ Orihime. ” panggil ichigo yang sudah duduk di depan orihime, dan sukses menghentikan kegiatan orihime yang sedang makan ice cream.
            “ Kakak! Kau tahu? Aku sengat sebal sekarang, saat di jalan aku bertemu dengan penyelamatku kau tahu kan orang yang sewaktu di bandara aku kejar? Aku bertemu dengannya lagi… ”
“ Hime..? ” Panggil ichigo.
“ Dan asal kakak tahu! aku tidak mengerti mengapa ia begitu tidak mengenalku bukan kah ia yang menolongku dan aku pun sudah memanggil namanya tapi ia mengelak mengenai namanya, dan yang lebih membuat ku sebal, sangat sebal malah.
“ Hime…? ” panggil ichigo lagi, namun tak di respon dari orihime yang masih saja cerita.
“ Ia bilang ia tidak mengenalku dan ia pergi meninggalkan ku sendirian tanpa penjelasan yang dapat ku mengerti aku sunguh tak habis pikir bagaimana biasa ada orang seperti i…”
“ ORIHIME ! Tolong… dengarkan aku dulu, tenangkan dirimu.” Pinta ichigo yang sudah kesal karena ulah orihime. Sedangkan orihime dengan tampang polosnya malah tersenyum dan menyuapkan sesendok ice cream ke dalam mulutnya.
“ Sebenarnya masalah apa yang menimpamu? Apa itu menyangkut nilai sekolah mu? ” Tanya ichigo.
“ Tentu saja tidak.” Jawab orihime tenang.
“ Lalu, kali ini masalah apa lagi yang kau bawa? ”  belum sempat orihime menjawab ichigo sedah lebih dulu mendapat panggilan dari handponenya yang bergetar. Orihime yang tidak ingin kakaknya itu pergi meninggalkannya, menggenggam lengan ichigo dan mengisyaratkan tatapan memelas pada ichigo untuk tidak menerima telephone dan tetap mendengarkan ceritanya. tapi ichigo lebih memilih untuk mengangkat telephone dan melepas pelan gengaman orihime dan beranjak pergi ke luar. Orihime merasa seperti kehilangan kakaknya yang dulu ia kenal, yang dulu selalu menerima ceritanya, dan menyemangatinya, sekarang mulai berubah menjauhinya. Sungguh kasihan… tak lama kemudian seorang pemuda sudah menempati tempat duduk di hadapan orihime. Panggil saja dia ishida dengan sekali tarikan nafas ia pun memulai pembicaraan dengan gadis di depannya orihime.
“ Sudah kuduga kau pasti disini. Ngomong-ngomong sudah adakah ide yang kau dapat? ” Tanya ishida dan sukses membuat orihime memukul dahinya sendiri yang lupa dengan tujuannya.
“ Hahahaha… dasar kau ini. Ayo kita kerjakan tugasnya. ” ajak ishida. Dan mereka pun mengerjakan tugas di restaurant itu dengan kehebohan yang di timbulkan orihime tentunya.
Di luar restoran, Ichigo yang mendapat telephone dari rukia…
            “ Rukia, maksudmu ia benar-benar ada di sini? ” Tanya ichigo memastikan.
            “ Iya, dan aku sudah mengajaknya bertemu dengan kita di restoran mu besok pukul 04:00 sore. Tidak apa kan? ” Tanya rukia di sebrang sana.
            “ Tentu saja, baiklah sampai jumpa di rumah. ” begitulah akhir dari percakapan lewat via telephone antara ichigo dengan rukia.
Ichigo pun masuk kembali ke dalam restoran dan berniat untuk minta maaf pada orihime. Namun,  di urungkannya karena melihat keseriusan orihime dengan teman dekatnya ishida yang sedang mengerjakan tugas.
Di rumah besar…
            “ To : ulquiorra
temui aku di restoran Nana pukul 04:00 sore.
from : rukia ”
itulah isi ajakan yang di terima ulquiorra dari e-mailnya. Jemari keriputnya menekan kata balas pada layar handpone. Senyum manis namun mengerikan terpantri di wajah nenek.
“ Nenek! Apa yang nenek lakukan? Cepat kembalikan handpone ku! ” alangkah terkejutnya ulquiorra melihat neneknya sedang mengotak-atik handpone kesayangannya tanpa sepengetahuannya. Namun salahnya juga yang sembarangan meninggalkan handponenya di ruang tamu. Dan jadilah sekarang olahraga tarik handpone antara nenek dan ulquiorra.
“ Terkirim? ” ucap ulquiorra yang bingung dengan tulisan yang tertera di layar handponenya. Lirikan matanya tertuju pada sang nenek untuk memberitahu apa yang neneknya kirim barusan?.
“ Anak muda zaman sekarang sungguh tidak se-romantis zaman ku dulu. Sungguh malang.” Gumam nenek dan beranjak pergi dari ruang tamu.
“ Yang malang itu nenek yang sudah ketinggalan zaman.” Ulquiorra menge-cek daftar e-mail keluar memastikan neneknya tidak membuatnya dalam masalah.
“ Hahahahaha…”  tawa sang nenek menggema keseluruh penjuru ruangan.
Di rumah rukia…
            “ To : rukia
Tentu saja sayang… J
From : ulquiorra ” isi e-mail dari ulquiorra hamper saja membuat piring yang di pegang rukia jatuh. Ichigo yang melihatnya heran dan menanyakan keadaannya namun dengan sigap rukia memasang wajah ceria dan mengepalkan tangannya menandakan  ia baik dan sehat.
Ulquiorra terkejut, menyadari isi balasan e-mail neneknya.  cepat-cepat membalas dan meminta maaf pada yang bersangkutan.
Esok harinya
Suara heboh dari dalam dapur membuat semua penghuni di dalamnya ekstra kerja keras dan sabar menghadapi cobaan yang di lakukan oleh gadis yang  tak lain dan tak salah lagi ialah orihime  yang dengan seenaknya menggantikan salah seorang dari pelayan restoran itu yang berhalangan tidak masuk. berbagai masalah yang di timbulkan dari mulai piring-gelas pecah satu persatu, pesanan yang salah di buat, samapi kompor yang hamper meledak. “ Gadis gila ” itu lah sebutannya bagi para kalangan pelayan,  namun orihime yang kelewat polos lagi-lagi tidak memperdulikannya. Ichigo sebagai pemilik restoran yang dibangun dengan kerja sama teman-temannya itu sudah lelah dengan tingkah adiknya dan jujur dalam hatinya ia ingin mengurung adiknya itu dalam peti mati dan di segel dengan berbagai jimat agar tak bisa keluar dan mengacau lagi.
            “ Ichigo bantulah kami mengehentikan adikmu ini jangan mengurus kasir terus… restoran bisa rata karena adikmu, kau tahu kan suara heboh dari dalam dapur.” Pinta temannya yang sudah tak bisa di bilang chef denagn seragam kerja yang berantakan.
            “ Gantikan aku.” Pinta ichigo dan segera menuju dapur, benar dugaannya.  dapur sungguh seperti tempat yang baru saja di bom.
“ Ya… Ampun hime, apa yang telah kau perbuat? Kau ingin buat restoran kami bangkrut? ” Tanya ichigo dengan suara tinggi. Orihime yang mendengar tutur kata dari kakaknya itu tertunduk sedih, badannya mulai bergetar  pertanda sebentar lagi ia pasti akan menangis. Ichigo yang melihatnya seperti itu sontak langsung berfikir bagaimana cara menenangkan orihime. Dan terlintaslah ide yang tambah parah…
“O-orihime… j-jangan menangis. Ok? Begini saja, kau tak usah membantu di dapur. Ku tugaskan kau menyambut para tamu di depan ok? ” saran ichigo di tanggapi oleh orihime yang bergembira langsung memeluk kakaknya. Sedangkan para pelayan yang melihat dan dengar langsung geleng-geleng kepala.
“ Maaf teman-teman… ” gumam ichigo dalam hati.
Jadilah orihime yang sekarang telah berganti pakaian menjadi seorang pelayan. Jika di perhatikan orihime itu sunggu cocok memakai baju apa pun tubuhnya yang, ya… bisa di katakana langsing. Dan tinggi yang semampai itu dapat siapa pun yang melihatnya beranggapan bahwa ia adalah seorang model. Tapi dari ke unggulannya tersebut jauh di dalam otaknya ia hanya seorang gadis polos yang kelewat tak peka dan selalu merasa yang ia lakukan tidak buruk. Pada menit-menit yang terlewatkan ichigo hanya untuk mengawasi adiknya itu tidak melakukan tindakan  konyol dan membahayakanakhirnya dapat berbuah hasil. Kini ia mulai merasa lega karena sejauh ini orihime melakukannya dengan baik.
Tak jauh dari restoran…
Sebuah mobil sport hitam dengan corak bergaris hijau menambah kesan cool dan amazing terparkir aman di depan restoran tersebut. Sang pemilik keluar dengan angkuhnya dan ia ketahui bahwa setiap mata yang melihatnya terkagum-kagum. Ia langkahkan kakinya dengan santai masuk ke dalam restoran.
            “ Selamat datang…!” belum sempat orihime mempersilahkan pelanggannya menuju kursi raut wajahnya juga sikapnya bingung juga terkejut menjadi satu.
            “ Uq! ” teriak orihime spontan dan yang di teriyaki pun sama terkejutnya namun dengan muka datarnya tidak seperti orihime. Bagimana bisa dalam 2 hari ini ia bisa bertemu dengan gadis yang tidak dikenalnya dan asal menyebut namanya itu sekarang.
            “ Kalian saling kenal? ” Tanya rukia yang baru saja datang dan berada di antara ulquiorra dan orihime.
            “ Tidak! ” dan “ Ya! ” ucap mereka berbarengan namun dengan kata yang berbeda.
            “ Orihime, bisa kau antar kami ke meja kosong? ” pinta rukia dengan senyum.
            “ Tentu saja, kakak rukia. Let’s go… ” ujar orihime riang.
Ke dua mata mereka saling bertatapan dan yang lain malah bingung dengan ke duanya.ulquiorra mungkin tidak keberatan di tatap tapi ini sudah kelewatan. yang di tatap mulai risih dengan gadis pelayan yang mengantarnya ke meja.
            “Ah, maaf aku telat mengucapkannya. aku… ” belum sempat ulquiorra melanjutakan kata-katanya. rukia menyikut lengan ichigo memberitahunya untuk bertindak. Ichigo memotong perkataannya dengan menyuruh orihime untuk mengambilkan makanan dan minuman ke meja. Dengan senang hati orihime patuh dan pergi meninggalkan mereka.
            “ Ulquiorra, kami ingin kau jangan mengatakan apa pun tentang hubungan kami sekarang pada orihime. kami harap kau dapat mengerti ” pinta rukia tertunduk. Ichigo yang berada di sampingnya menggenggam tangannya.
            “ Gadis yang tadi itu? ” Tanya ulquiorra namun bukan jawaban yang ia dapatkan hanya anggukan kepala dari kedua orang di hadapannya.
            “ sebenarnya,  orihime adalah adik bagi kami. Walau bukan adik kandung tapi kami mengagapnya seperti keluarga. Sejak umurnya berusia 11 tahun ia jadi yatim piyatu. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan tapi untungnya keluarga ku adalah teman dekat dengan orang tua oirihime lalu menjadikannya sabagian dari keluarga ku. Karena aku lebih tua orangtua ku mengamanatkan ku untuk menjaganya sampai kelak ia bisa tegar dan dapat berdiri sendiri. Namun saat ku tahu bahwa ia menyimpan rasa padaku, aku sakan bukan lah kakak yang baik untuknya.”   Ucap Ichigo panjang lebar.
“ Apa kau terima perasaannya? ” Tanya ulquiorra agak tertarik.
“ Tidak, lebih tepatnya belum. Dan yang sekarang kau ketahui aku sekarang ini sudah bertunangan dengan rukia dan mungkin sebentar lagi akan menikah. Dan satu-satunya orang yang belum tahu ialah orihime.” lanjut ichigo.
“ Ulquiorra, asal kau ketahui. Pertunangan kami sebenarnya bisa di katakan tidak sah karena ada orang lain yang mungkin tidak setuju dengan hubungan kami ini. Dan untuk menghindari itu kami melakukan tindakan yang tidak baik. Dengan mengirim orihime ke paris dengan dalih liburan gratis. Aku sangat takut dengan kedatangannya kembali. ” sambung rukia.
“ Jadi ini alsan kalian mengajak bertemu? ” Tanya ulquiorra sambil melipat tangannya.
“ Tidak, bukan  itu. Aku memang sengaja mengajak mu bertemu karena kami sudah lama tak melihat mu lagi. Sungguh! ” rukia menyakinkan dan tak lam aorihime datang dengan nampan berisi makan dan minuman yang ia pegang dengan gemetar  tapi selamat sampai di meja pelanggan.
“ kau tidak salah? ” Tanya ulquiorra heran dengan minuman yang orihime berikan. Bagimana tidak bertanya?  Kalau kau di suguhi dengan orange jus namun di isi dengan berbagai buah apa orihime anggap itu ice fruith’s? dan makanannya steak saus chocolate? Iikz kau dapat bayangkan?.
“ Itu enak koq, biar ku buktikan. ” dengan lihai orihime memotong steak dan memakannya, tak lupa minuman orange jus. Ulquiorra membulatkan matanya takjub dengan apa yang gadis di hadapannya ini lakukan. Pelayan dirumahnya saja tidak akan berani bagaimana ia bisa?
Skip time…
4 orang di meja itu saling bercakap-cakap…
            “Orihime, dia ini bukan uq. Tapi ulquiorra kau mengerti? ” jelas rukia.
              Namaku  Orihime, maaf sudah asal memanggil mu. ” orihime mengakui salahnya dan mengulurkan tangannya minta untuk di jabat, Tapi tidak di sambut oleh ulquiorra. Dan acara obrolan itu lagi-lagi di hebohkan dengan orihime yang tidak mengerti alur pembicaraan hanya dapat ber O-riah dan teriak kagum tak jelas. namun tidak satu pun ingatan orihime yang tertuju pada penyelamatnya dan tentang sarung tangan. Hingga akhirnya mereka berpisah…
            “ Hy, uq. ”  panggil orihime memamerkan senyum terbaiknya, Di depan pintu restoran yang mau tutup itu. Ichigo dan rukia akan pulang telat makannya orihime di suruh pulang lebih dulu.
            “ Aku bukan uq, dan jangan panggil nama itu lagi. Ada urusan apa? ” Tanya ulquiorra yang berjalan menuju mobilnya yang di ikuti orihime.
            “ Kalau ul,ulq-apalah itu, aku susah menyebutnya, jadi kau ku panggil uq saja bagimana? Itu nama yang bagus dan lagi pula kau itu imut dengan nama itu.” Sontak ulquiorra menghentikan gerak tangannya membuka pintu mobilnya dan menatap orihime tajam seakan-akan menelannya hidup-hidup. Orihime dengan polosnya malah tersenyum manis dan terkikik geli.
“ Nona, apa kau sudah sakit jiwa? Berhentilah bicara yang tidak perlu dan jaga sikapmu. Menyebalkan. ” Tegur ulquiorra dan sontak membuat orihime bungkam. Tak ingin berkelanjutan ulquiorra pun langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan orihime yang lagi-lagi mematung dengan tampang diam seribu bahasa.
“ Entah mengapa, baru kali ini aku mendengar ada orang yang mengkeritikku pedas. Tapi aku merasa suara ulquiorra bukanlah sepenuhnya keritikan melainkan kepedulian. ” gumam orihime dalam hati.  Dari jauh orang yang melintas di hadapan orihime akan beranggapan bahwa ia gila tersenyum sendiri menatap arah jalanan yang di lalui ulquiorra pulang tadi.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya…. J
*chapter 5 *
Kakinya masih terus melangkah berkeliling di jajaran buku-buku yang berbagai macam dan bola matanya masih setia mencari buku edisi lama yang mungkin akan kau dapatkan jika lebih sabar dan teliti. tapi raungan dari gadis di belakang mu mengganggu konsentrasi dan kesabaran mu. Sudah lebih dari 10 menit suara raungan yang meminta untuk pergi dari toko buku tempat mu berada.  
            “ Kak ichigo….” Panggil Orihime. namun yang di panggil masih setia pada kegiatan mencarinya. Merasa di acuhkan orihime menggembungkan pipinya pertanda ia sebal.
            “ Baiklah, aku pergi sendiri! ” teriak orihime dan berlalu pergi meninggalkan kakaknya.
            “ T-tunggu orihime… ” panggil ichigo berusaha menghentikan orihime namun terlambat sosok orihime sudah menghilang.
Keringat membasahi pilipis orihime mungkin benar apa yang di ucapkan oleh pembawa acara berita tentang cuaca hari ini yang cerah,  amat cerah malah. lihat saja sang mentari tersenyum amat sangat hangat seakan-akan membakar mu hidup-hidup. Langkah kakinya sudah lelah berjalan semenjak ia meninggalkan kakaknya di toko buku tadi. Entah di mana ia berada kakinya masih setia berjalan karena tak ada jalan lain selain pulang dengan jalan kaki. Ia sadar bahwa semua uagnya ada di dalam tasnya yang ia titipkan di toko buku itu bersama tas kakaknya dan bodohnya ia langsung pergi saja tanpa sempat mengambil tasnya lebih dulu. Pandangan matanya sayu seakan meredup.
Di rumah besar…
“ Nyonya, ini ice lemon teanya. ” seorang pelayan menaruh segelas ice lemon tea di atas meja. Sang majikan masih sibuk dengan kegiatannya memetik bunga yang ia tanam di halam depan rumahnya.
  Dimana ulquiorra ? ” tanya sang majikan Masih dengan kegiatannya.
“ Tuan muda sedang keluar nyonya , tuan muda bilang tidak akan lama. ” jawab sang pelayan.
“ Begitu, baiklah kau boleh pergi. ” pinta sang majikan.
Orihime berjalan sempoyongan sungguh kakinya tak kuat lagi berjalan matanya pun tak kuat untuk terus fokus pada jalan. Tanpa di komando tubuhnya ambruk di depan sebuah rumah elit yang besar.
            “ Bruk! ” suara dentuman yang cukup keras terdengar samapai ke telinga si pemilik rumah besar. Si pemilik menghentikan kegiatannya dan beranjak ke asal suara tadi, bola matanya bulat sempurna ia terkejut dengan apa yang ia lihat. Bagaimana tidak ? yang ia lihat seorang gadis yang tidak sadarkan diri berada tepat di depan rumahnya. Sungguh malang…
            “ Heum…ini di mana? ” Tanya orihime yang sudah sadar dari pingsannya. Matanya samar-samar melihat warna cream pada cat dinding.
            “ Surga anak ku, apa kau sudah siap? ” Tanya suara lembut dari seorang wanita tua di sampingnya dengan senyum terbaiknya.
            “ S-surga? Benarkah? T-tidak mungkin… ” teriak orihime dan bangkit dari posisinya tidur.
            “ Hahahaha… ” wanita tua itu tertawa keras melihat tingkah orihime yang sudah seperti orang yang terbangun karena mimpi buruk. Orihime yang melihatnya hanya tersenyum dan ikut tertawa.
            “ Orihime, nama yang cantik. ” ucap sang wanita tua di sela acara perkenalannya dengan orihime.
            “ Bibi, terimakasih sudah menolongku. ” ucap orihime tersenyum.
            “ Panggil saja aku nenek, kata cucuku aku ini sudah tua. ” sanggahnya.
            “ Heeh?! Itu tidak benar, bibi…ah maksud ku nenek tidak setua yang di katakan cucu nenek koq, sungguh! ” bantah orihime.
            “ Benarkah? Aku juga merasa begitu. Orihime kau gadis baik, cantik, juga polos ( jujur apa adanya. ) ” di genggamnya tangan orihime dengan mata berkaca-kaca. Namun tiba-tiba seorang pelayan masuk menjamukan ice milktea dan snack astor.
            “ Nenek, akan lebih enak jika astornya kita jadikan sebagai sedotan. Perhatikannya.” Pinta orihime sambil mengambil satu astor dan memasukannya ke dalam ice milkteanya lalu di sedotnya. Kekanak-kanakan memang tapi sang nenek malah mengikuti apa yang tadi di lakukan orihime.
            “ Waah… ternyata enak juga ya? Hahahaha… ” ucap nenek dan tertawa di sambung orihime yang ikut tertawa.
Ban mobil sport hitam dengan corak bergaris hijau itu terparkir aman dalam bagasi dan sosok yang mengendarainnya pun keluar. Kakinya melangkah menuju ruang tamu. Para pelayan yang melihatnya tunduk memberi hormat. Gendang telinganya mendengar suara canda tawa dari tempat yang akan ia tuju.
            “ Nenek aku pu…” ucap ulquiorra terhenti karena melihat gadis gila tengah berada dalam rumah nenek dan duduk berdampingan dengan sang nenek.
            “ Hy, uq! ” sapa orihime. melambaikan tangan pada sosok yang memeatung di pintu.
            “ Kalian saling kenal? ” Tanya sang nenek.
            “ Tidak! ” dan “ Ya! ” ucap mereka berbarengan namun dengan kata yang berbeda.
Nenek yang mendengarnya hanya dapat tertawa dan menyuruh ulquiorra ikut bergabung. Matanya terus menatap orihime tajam dengan arti menanyakan mengapa ia bisa berada di rumah neneknya?. Orihime yang di tatap seperti itu hanya tebar senyum walau dalam hatinya ia takut dan bertanya-tanya. Merasa suasana hening datang menyelimuti akhirnya di pecahkan oleh suara kicauan perut orihime…
            “ Hahaha… maaf. ” ucap orihime tertawa malu. Sang nenek ikut tertawa melihat tingkah orihime yang lucu. Sedangkan ulquiorra menghembuskan nafas beratnya karena lagi-lagi harus berhadapan dengan orihime. sang nenek pun mengajak orihime makan bersama dan berpindah tempat ke ruang makan. Di meja makan para pelayan menyuguhkan berbagai macam makanan yang super lezat dan menggoyang lidah bahkan air liur orihime sudah hampir menetes. Dan mereka pun makan bersama, setelah acara makan selesai waktunya untuk hidangan penutup.
            “ Nenek, Uq! Terimakasih. ” ucap orihime. ulquiorra terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. bagaimana tidak? Bukan kah orihime sudah di beri tahu bahwa jangan memanggil nama itu lagi? Kau akan dapat masalah orihime.
            “ Uq? Maksud mu cucu ku ulquiorra? ” Tanya sanag nenek. Namun hanya dapat jawaban anggukan kepala dari orihime. lagi-lagi sang nenek tertawa dan mengejek ulquiorra dengan nama barunya. Yang di ejek merasa risih dan kesal langsung menarik lengan orihime dan membawanya keluar ruangan.
            “ Fufufu… anak muda zaman sekarang sungguh tidak sabaran. ” gumam sang nenek.
Di lorong…
            “ Berhentilah mengganggu ku!” Ucap ulquiorra yang mendorong pelan orihime ke dinding.
            “ Siapa yang mengganggu? ” Tanya orihime polos.
            “ Kau nona! Bagaimana bisa kau ada di sini? Sudah cukup bagi ku bertemu dengan gadis gila seperti mu dalam 3 hari ini. ” ucap ulquiorra yang baru sekali ini bicara panjang lebar hanya untuk seorang gadis gila?.
            “ Aku dehidrasi. ” ucap orihime.
            “ Apa? ” alis ulquiorra bertautan.
            “ Aku pingsan karena dehidrasi, ketika aku sadar tahu-tahu aku sudah berada di sisni. Dan neneklah yang menolongku. ”  orihime menjelaskan. Ulquiorra akhirnya sadar tidak semua kekesalannya ia tumpahkan ke orihime, karena salah neneknya juga yang membawa masuk gadis gila ini ke dalam rumah. Tak jauh dari tempat ulquiorra dan orihime, dua pasang mata tengah menatapnya tajam dan senyum mengerikan terpantri di wajahnya. Melihat kedekatan cucunya dengan seorang gadis. nenek pun keluar dari tempatnya bersembunyi dan mendekati dua orang yang tengah pertatapan.
            “ Wah-wah… Rupanya kalian punya hubungan khusus? ” Tanya sang nenek dari belakang ulquiorra yang di Tanya terkejut dan bilang tidak secara bersamaan. Sang nenek malah tertawa dan bersih kukuh mengira bahwa keduanya berpacaran sedangkan keduanya sama-sama mengelak dengan kata-kata yang berbeda. Sang nenek hanya tersenyum dan menarik tangan kedua orang di depannya.
            “ Aku merestui kalian. ” ucap nenek sambil menyatukan ke dua tangan kedua berbeda gender itu.
            “ Nenek! ” ucap ulquiorra dan orihime berbarengan. Yang di sebut namanya beranjak pergi meninggalkan keduanya yang mematung namun dengan tangan yang masing-masing masih menyatu. Suasa hening menyelimuti mereka dan semburat merah merona menghiasa pipi orihime, baru kali ini ia merasa debaran jantungnya bertempo cepat saat tangannya bersentuhan dengan seorang laki-laki selain kakaknya ichigo.
            “ Ah! Maaf. ” ucap orihime sontak karena tangan ulquiorra terlepas dari genggamannya. Ulquiorra malah berjalan membelakanginya tanpa bersuara. Namun tanpa di ketahui orihime semburat merah merekah terpantri di wajah ulquiorra.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya…. J